Istri Sholihah

Posted in Nisaa' on Januari 31, 2008 by jaisyulghuroba

Istri yang shalehah adalah yang mampu menghadirkan kebahagiaan di depan mata suaminya, walau hanya sekadar dengan pandangan mata kepadanya. Seorang istri diharapkan bisa menggali apa saja yang bisa menyempurnakan penampilannya, memperindah keadaannya di depan suami tercinta. Dengan demikian, suami akan merasa tenteram bila ada bersamanya.

Mendapatkan istri shalehah adalah idaman setiap lelaki. Karena memiliki istri yang shalehah lebih baik dari dunia beserta isinya. ”Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri shalehah.” (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Di antara ciri istri shalehah adalah, pertama, melegakan hati suami bila dilihat. Rasulullah bersabda, ”Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah takwa kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan suaminya, ketika suaminya pergi.” (HR Ibnu Majah).

Kedua, amanah. Rasulullah bersabda, ”Ada tiga macam keberuntungan (bagi seorang lelaki), yaitu: pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu …” (HR Hakim).

Ketiga, istri shalehah mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir dan berperasaan bagi suaminya. Allah SWT berfirman, ”Di antara tanda kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.”(QS Ar Rum [30]: 21).

Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.” (HR Thabrani dan Hakim).

Namun, istri shalehah hadir untuk mendampingi suami yang juga shaleh. Kita, para suami, tidak bisa menuntut istri menjadi ‘yang terbaik’, sementara kita sendiri berlaku tidak baik. Mari memperbaiki diri untuk menjadi imam ideal bagi keluarga kita masing-masing.

Kamis, 31 Januari 2008

Duhai Pria Manapun Yang Kelak Mendampingiku

Posted in Nisaa' on Januari 31, 2008 by jaisyulghuroba

Khamis, 31 Januari 2008

Duhai seseorang disana …..

Bila Allah mengizinkan kita bertemu kelak . . .
Bila Allah mewujudkan takdir pernikahan kita kelak . . .

Dan bila kemudian disaat kita hidup bersama, lantas terlihat sisi salah pada diriku, semoga Allah mengkaruniakanmu kemampuan untuk melihat sisi baikku. Sungguh Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. bukankah kurang bijaksana bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu? Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Calon Suamiku…
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Ya Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Engkau-lah yang telah menentukan hatiku jatuh pada lelaki ini,
jadikanlah cinta ku pada calon suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Amin ya rabbal alamin.

Gaza, mulai terang.

Posted in Jihad on Januari 24, 2008 by jaisyulghuroba

Rabu 23 Jan, 10:52 AM

Gaza (arrahmah) – Listrik berangsur-angsur kembali ke Gaza, Palestina. Setelah sebelumnya Israel melakukan blokade suplai listrik untuk daerah ini, seperti yang diberitakan kemaren bahwa Israel memblokade Gaza yang menyebabkan suplai bahan bakar terhenti.

Blokade yang dilakukan sejak Kamis 17 Januari lalu membuat krisis kemanusiaan di wilyah tersebut. Hal ini pun mengundang simpati dunia internasional.

Setelah blokade dicabut, truk-truk yang mengangkut gas, solar, serta minyak mengalir memasuki Gaza pada Selasa 22 Januari. Tak lama beberapa jam kemudian pusat pembangkit listrik kembali hidup, setelah sebelumnya alirannya diputus total pada Minggu 20 Januari.

Kami tidak ingin berkonflik dengan dunia internasional,” timpal Menteri Luar Negeri Israel Arye Mekel.

Gaza selama ini memang sepenuhnya dikuasai pejuang Hamas. Dan Israel beralasan blokade dilakukan untuk mencegah roket Hamas menyerang wilayah mereka.

“Blokade membuat kerugian terhadap kemanusiaan yang besar dan kami ingin Israel mengakhiri semua,” ujar juru bicara Palang Merah Internasional Dorothea Krimitsas.

Sebelumnya akibat blokade suplai energi, penduduk Gaza menaglami kesulitan. Seluruh aktivitas warga tidak bisa dilakukan, utamanya rumah sakit yang melayani kesehatan warga.

Sekjen Hizbullah, “Suatu kehormatan menjadi musuh setan besar “

Posted in Dakwah on Januari 24, 2008 by jaisyulghuroba

Oleh : Redaksi 14 Jan, 08 – 3:00 pm
imageHizbullah mengeluarkan respon keras atas tudingan AS bahwa Iran telah membantu persenjataan kelompok Hizbullah di Libanon. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syed Hassan Nasrullah dengan tegas mengatakan bahwa dia justru merasa bangga telah menjadi musuh “Setan Besar” alias musuh Amerika Serikat.

Dalam pernyataan hari Minggu (13/1) malam, Nasrullah mengatakan dia tidak takut dengan ancaman AS dan tidak akan sembunyi. “Saya tidak akan sembunyi. Saya merasa bangga ketika Bush bicara tentang Hizbullah dan gerakan-gerakan perlawanan terhadap AS, karena ketika Firaun dan Setan Besar menuding kami dan memandang kami sebagai musuh mereka, ini merupakan kehormatan bagi kami, ” tandas Nasrullah.

Dalam rangkaian kunjungannya ke Timur Tengah, Presiden AS George W. Bush saat berpidato di Uni Emirat Arab melontarkan kecamannya terhadap Iran dan Hizbullah. Bush mengatakan bahwa Iran adalah negara terdepan di dunia dalam mensponsori aktivitas teror. Bush juga menuding Iran telah memberikan bantuan ratusan juta dollar untuk para ekstrimis di seluruh dunia, salah satunya untuk kelompok Hizbullah.

Hassan Nasrullah mengatakan, Bush gagal meyakinkan dunia tentang tuduhannya terhadap aktivitas nuklir Iran dan sedang mencari cara lain untuk “menghancurkan” Iran yaitu dengan melontarkan tudingan bahwa Negara Republik Islam Iran berada di balik kelompok-kelompok terorisme di Libanon, Palestina, Irak dan Afghanistan.

“Di mana ada perlawanan, Iran selalu dituding telah membantu gerakan perlawan itu, dan gerakan perlawanan ini dimata Bush adalah para teroris. Padahal dia-lah (Bush) yang mendukung terorisme, melakukan pembunuhan dan mengobarkan peperangan, ” tandas Nasrullah.

Ia menambahkan, buat AS, “Ketika sebuah negara seperti Iran atau Suriah membantu gerakan-gerakan perlawanan yang membela anak-anak, kaum perempuan, rumah-rumah, tanah dan tempat-tempat suci dari cengkeraman Zionis Israel, maka negara itu dilihatnya sebagai negara teroris yang mendukung terorisme. “

Iran: Bush Tak Paham Politik
Seperti biasanya, Iran tenang-tenang saja mendengar pernyataan-pernyataan Bush tentang Negara Para Mullah itu. Menlu Iran Manouchehr Mottaki menilai Bush tidak paham politik Timur Tengah, terutama politik di Libanon.

“Mereka (AS) tidak punya gambaran yang nyata berdasarkan realita-realita yang terjadi di kawasan ini. Mereka terus saja mengambi kebijakan-kebijakan sepihak terhadap bangsa-bangsa di wilayah ini, dengan cara menciptakan ketegangan di kalangan negara-negara di Timur Tengah dan menerapkan pendekatan yang juga sepihak pada Libanon, ” kritik Motakki.

Ia mencontohkan, setelah konferensi Annapolis, AS tetap mendiamkan tindakan rejim Zionis Israel yang terus menerus menyerang rakyat Palestina, khususnya di Jalur Ghaza.

Dalam rangkaiannya ke sejumlah negara Timur Tengah, sangat jelas misi Bush untuk menggalang kebencian negara-negara Timur Tengah terhadap Iran. Namun, seruan Bush agar negara-negara Timur Tengah beramai-ramai melawan Iran, tidak mendapat sambutan dan ditanggapi dingin-dingin saja. Misi Bush pun gagal?

” Allohu Akbar, Yaa Muhaimin, Lindungi dan Jagalah para Mujahideen-Mu “

J I H A D ANTARA DEFINISI SYAR’I DAN USAHA DISTORSI

Posted in Jihad on Januari 19, 2008 by jaisyulghuroba

I. DEFINISI SECARA BAHASA
Kata jahada–yajhadu-al juhdu wa al jahdu جهد-يجهد-الجهد-الحهد) ) mempunyai lebih dari 20 makna, semuanya berkisar pada makna kemampuan (الطاقة ) , kesulitan (المشقة ) , keluasan (الوسع) (kemampuan dan kesempatan), (القتال) perang dan ( (المبالغة bersungguh-sungguh. Karena itu para ahli tafsir, ahli hadits, ahli fiqih dan ahli bahasa selalu mengartikan jihad secara bahasa dengan makna mencurahkan segenap kemampuan atau (bersungguh-sungguh menundukkan) kesulitan. [1]

Syaikh Musthofa al Suyuthi berkata,” Al jihadu merupakan mashdar dari kata jaahada-jihaadan wa mujaahadatan maknanya bersunggh-sungguh (mencurahkan kemampuan) dalam memerangi musuh.”[2] Baca selebihnya »

Jaisy Al-Rashideen : “Bells of Dangerous”

Posted in Vidio Jihad on Januari 19, 2008 by jaisyulghuroba

Change and Jihad Front

Jaish al-Rashideen (Army of the Rightly-Guided)
“Bells of Dangerous – Documentary Film of the Year 2007″

PASSWORD: {AD^&#P_+Q!!!%cd&$

high quality

.rmvb, 218 MB, 66:50 TRT
http://www.badongo.com/file/7244898
http://www.fileflyer.com/view/UbXjMAJ
http://www.fileflyer.com/view/S0yCrA5
http://www.fileflyer.com/view/1qCykAM
http://www.megaupload.com/?d=CKDR56F3

http://www.fileflyer.com/view/S0yCrA5
http://www.fileflyer.com/view/1qCykAM

http://ia360637.us.archive.org/3/ite…m2007/2007.rar
http://ia360632.us.archive.org/3/ite…_579/2007.rmvb

5 bagian (download semuanya):

http://www.furk.net/2007.rmvb.part1.rar.html
http://www.furk.net/2007.rmvb.part2.rar.html
http://www.furk.net/2007.rmvb.part3.rar.html
http://www.furk.net/2007.rmvb.part4.rar.html
http://www.furk.net/2007.rmvb.part5.rar.html

medium quality

120 MB .wmv
http://www.fileflyer.com/view/oSsoVBA

http://ia360639.us.archive.org/0/…../BellsOfDanger.wmv

low quality

75 MB . rm
http://www.xxx/bod_1_ar_NEW.rm
Ditulis oleh mu7ahideen

Intisari Tauhid

Posted in Tauhid on Januari 19, 2008 by jaisyulghuroba
 
Kaum muslimin dan muslimah, disini ada beberapa kata untuk meringkas sifat-sifat tauhid yang baik dan untuk dilaksanakan sebagai peringatan untuk melawan segala sesuatu yang dapat merusak tauhid Anda yang dapat berupa berbagai bentuk kesyirikan baik yang kecil maupun yang besar. sesungguhnya tauhid adalah kewajiban pertama yang diserukan oleh semua utusan Allah swt. yang mendasari segala seruan mereka kepada semua orang. Baca selebihnya »

Al Jama’ah

Posted in Tauhid on Januari 19, 2008 by jaisyulghuroba

Al-Jama’ah menurut kamus bahasa Arab “Lisanul Arab” karangan Imam Ibnu Manzur, memiliki tiga arti yang berbeda, yaitu : Al-Ijtima (Kesatuan), Al-Jami (Berkumpul dan bekerja bersama-sama) dan Al-Ijma’ (mufakat dan persetujuan).
Al-Jama’ah Dalam Istilah Hukum

Kata Jama’ah memiliki penggunaan yang berbeda-beda dalam hukum Islam. Sebagian penggunaannya adalah untuk menunjukkan makna, Shahabat, Ahli ilmu pengetahuan, Ahli surga dan Umat Islam di bawah kepemimpinan khalifah.
Al-Jama’ah adalah Shahabat

Fuqaha Islam telah menggunakan kata Jama’ah yang berarti Shahabat. Shahabat adalah mereka yang dipersatukan oleh satu kepemimpinan yaitu khalifah, dipersatukan dalam satu hukum, satu pemahaman, satu aqidah, dalam jihad dan satu agama. Mereka adalah orang yang menjadi perantara sampainya Al-Qur`an dan Al-Hadits kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang disenangi oleh Rasulullah SAW dan Beliau berkata bahwa para Shahabat tidak pernah bersepakat dalam kesesatan.

Imam Ash-Shaatibi berkata dalam Kitabul I’tisaam,
“Al-Jama’ah secara khusus penunjukannya adalah para Shahabat Rasulullah SAW, mereka adalah golongan yang menegakkan agama dan yang tidak pernah bersatu dalam kesesatan, dan tidak seorangpun kecuali mereka yang tidak akan pernah bersatu dalam dalam kesesatan.”

Abdullah Ibnu Mubarak berkata,
“Al-Jama’ah adalah Abu Bakar dan Umar (ra), dan mereka adalah golongan yang selamat. Dan dia mengutip sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda : “Ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan…”
Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk mengikuti para Shahabat. Seperti diriwayatkan Abu Daud, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Ikuti Al-Jama’ah.”

Ibnu Umar meriwayatkan,
“Allah tidak akan pernah mempersatukan umat ini dalam kesesatan. Allah akan melindungi mereka (Jama’ah) dan siapa saja yang menentang maka ia akan neraka.”

Al-Jama’ah adalah Golongan yang Selamat

Al-Jama’ah digunakan dalam hadits untuk menunjuk Firqah an-Najihah (golongan yang selamat dari api neraka)
Auf bin Malik meriwayatkan,
Rasulullah SAW berkata, kaum Yahudi akan terbagi dalam 71 golongan, satu golongan akan masuk surga dan 70 di neraka, kaum Nasrani akan terbagi dalam 72 golongan, satu masuk surga, dan di neraka. Demi Allah SWT yang jiwaku ada di tangan-Nya, umatku akan terbagi menjadi 73 golongan. 72 golongan akan masuk neraka. Para Shahabat bertanya : “Siapa golongan yang selamat itu ?” Rasulullah Saw menjawab : ”al-Jamaa’ah” (Kitabul Fitan, Sunan Ibnu Majah, Hadits no 3982)

Anas bin Malik meriwayatkan,
“Rasulullah SAW berkata : “orang-orang Bani Israil akan terbagi menjadi 71 golongan dan umatku akan terbagi menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah.” (Kitabul Fitan, Sunan Ibnu Majah, Hadits no. 3983)

Al-Jama’ah adalah Ahli Tsaqofah (Ilmu Pengetahuan)

Rasulullah SAW bersabda :
“Al-Jama’ah adalah Ahli Ilmu. Allah SWT menganugerahkan kepada mereka “hujjah” atas orang-orang yang membuat orang-orang tersebut mengikuti mereka.”

Imam Bukhari berkata,
“Al-Jama’ah adalah Ahli Ilmu, mereka megikuti Rasulullah SAW dan para Shahabat serta tabi’in.”
Penting disini untuk menekankan bahwa para ulama menduduki posisi yang berbahaya dalam pandangan Islam karena ada beberapa bukti dan beberapa hadits memberikan indikasi tentang kedudukan mereka di neraka dikarenakan kesalahan-kesalahan yang mereka sengaja. Akan tetapi, para ulama yang tergolong Al-Jama’ah disebutkan oleh Imam Bukhari sebagai orang yang mengikuti pemahaman Rasulullah SAW, para Shahabatnya dan para tabi’in.

Al-Jama’ah adalah Ahli Surga

Umar bin Khattab r.a., berkata :
“Hai orang-orang, aku berdiri hari ini sama seperti Rasulullah SAW berdiri dulu dan Beliau berkata, “Aku menyuruh kalian untuk taat kepada Allah SWT dan mengikuti Shahabat-Shahabatku dan mengikuti pengikut setelah mereka (Tabi’in) dan yang mengikuti mereka setelah itu (Tabi’it Tabi’in). Setelah itu orang-orang akan menyebarkan kebohongan, dan orang-orang akan menjadi saksi meskipun tidak seorangpun yang meminta kesaksiannya. Jangan seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, karena syaitan akan berada diantara mereka, syaitan senantiasa bersama orang-orang yang jauh dari Al-Qur`an dan Al-Hadits. Sehingga siapa saja yang ingin berada di surga, maka bergabunglah dengan jama’ah dan siapa yang senang melakukan kebajikan dan sedih ketika melakukan keburukan ia adalah seorang mu’min.
Umar bin Khattab r.a.,

Rasulullah SAW bersabda :
“Berhati-hatilah dan jagalah para Shahabatku baik-baik ! Ikutilah para Shahabatku dan para pengikutnya dan para pengikut mereka setelah itu. Setelah itu akan tersebar kebohongan sampai datang seorang pria yang bersaksi meskipun tak seorangpun memintanya bersaksi. Barangsiapa yang ingin melihat surga, maka bergabunglah dengan jama’ah, karena syaitan bersama seseorang yang menyendiri dan jauh dari Al-Qur`an dan Al-Hadits.”

Al-Jama’ah adalah Umat yang Berada Dibawah Kepemimpinan Seorang Khalifah

Al-Jama’ah digunakan dalam banyak hadits untuk menyebut kaum Muslimin yang berada di bawah kepemimpinan dan kesatuan seorang khalifah.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa melihat keburukan dari amirnya (pemimpinnya) maka hendaknya bersabar (jangan memberontak) dan barangsiapa yang menjauhi Al-Jama’ah (Jama’atul Muslimin di bawah kepemimpinan seorang khalifah) dan kemudian mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.”

Rosulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa meletakkan ketaatannya kepada khalifah dan memisahkan diri dari jama’ah, dan kemudian dia mati, maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.” (Shahih Muslim. Jilid 12, hal. 441 dan Sunan Nasa’I, Hadits no. 4125)

Hudzaifah r.a. meriwayatkan bahwa orang-orang ketika itu bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan sedangkan aku (Hudzaifah) bertanya tentang keburukan karena takut keburukan itu akan kutemui. Maka aku bertanya,
“Wahai Rasulullah sesungguhnya kami dulu dalam kejahiliyyahan dan kejelekan, kemudian Allah SWT menunjukkan kami dengan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan ? Jawab Rasulullah, “Ya.” Aku kembali bertanya, “Dan apakah setelah kejelekan itu ada lagi kebaikan ?” Rasulullah menjawab, “Ya, tetapi terdapat kabut di dalamnya.” Aku bertanya, “Apakah kabut itu?” Rasulullah menjawab, “Kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku, engkau mengetahui (kebaikan mereka) dan mengingkari (kejelekan mereka).” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah kebaikan itu ada lagi kejelekan?” Rasulullah menjawab, “Ya, yaitu para penyeru yang mengajak ke neraka jahannam. Barangsiapa yang memenuhi seruan mereka, mereka akan diceburkan ke neraka jahannam.” Aku berkata, “tunjukkan sifat mereka pada kami.” Rasulullah bersabda, “Mereka berkulit sama seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya lagi, “Apa yang engkau perintahkan pada kami jika itu kami temui?” Rasulullah menjawab, “Jauhilah semua kelompok tersebut sekalipun engkau harus menggigit akar pohon sehingga ajal menjemputmu sementara engkau tetap dalam keadaan seperti itu.” (Shahih Muslim, Hadits no.1847 dan Shahih Bukhari, Hadits no.6557)

Lebih jauh lagi Rasulullah SAW bersabda :
“Akan ada sesudahku suatu bencana sesudah bencana. Jika engkau melihat seseorang meninggalkan suatu jama’ah atau ingin memisahkan dirimu dari jama’ah, bunuhlah dia dimanapun berada. Allah SWT akan melindungi jama’ah dan syaitan akan berada jauh dan lari dari jama’ah.” (Sunan an-Nasa’i Hadits no. 3954).
Al-Jama’ah adalah Kesepakatan

Siapapun dapat menemukan kata Al-Jama’ah dalam hadits-hadits tentang kesepakatan dan persetujuan di kalangan orang-orang yang beriman. Diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad bahwa Nu’man Ibnu Bashir meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata :
“Barangsiapa yang tidak mensyukuri yang kecil, ia tidak mensyukuri yang besar (mendapat berkah) dan seseorang yang tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak akan pernah bersyukur kepada Allah SWT. Maka menyadari berkah Allah SWT adalah syukur, dan tidakmenyadari berkah Allah SWT adalah kufur. Kesepakatan adalah rahmat dan perselisihan adalah adzab.”

Diriwayatkan bahwa Abdullah Ibnu Umar r.a. berkata,
“Pada suatu hari ayahku berdiri dan memberi khutbah sama seperti suatu ketika Rasulullah SAW berdiri dan memberi khutbah. Dalam khutbahnya Rosulullah SAW berkata : “Aku memerintahkanmu untuk mengikuti para Shahabatku dan para pengikutnya serta para pengikut mereka. Setelah itu datang suatu masa dimana kebohongan akan tersebar dan seseorang akan memberi sumpah meski tidak seorangpun memintanya bersumpah, dan seseorang akan memberikan kesaksian meski tidak seorangpun meminta kesaksiannya. Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita karena syaitan akan berada diantaranya. Syaitan senantiasa akan bersama orang yang jauh dari Al-Qur`an dan Al-Hadits. Barangsiapa yang ingin masuk surga, bergabunglah dengan jama’ah.”

Al-Jama’ah adalah Ahlul Halli wal ‘Aqdi

Seperti diriwayatkan dalam banyak hadits bahwa Al-Jama’ah itu juga dikenal sebagai orang yang penting dan berpengaruh. Diriwayatkan dalam Fathul Bari oleh Ibnu Batta bahwa Al-Jama’ah itu adalah Ahlul Halli wal ‘Aqdi.

Al-Jama’ah adalah Kelompok

Al-Jama’ah dikalangan ahli hukum (Islam) juga digunakan untuk menunjuk sebuah kelompok yang berkumpul bersama untuk menunaikan sebuah kewajiban. Sebagai contoh kelompok yang menyerukan kebajikan, mencegah kemungkaran, menegakkan kembali khilafah, atau berjihad di jalan Allah SWT.

Allah SWT berfirman :
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang ma’ruf mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran (3) : 104)

Diriwayatkan oleh Abu Daud (Hadits no. 2197) bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Jika kalian pergi berjihad, pergilah bersama dan pergilah sebagai sebuah jama’ah.”
Jama’ah adalah Shalat di Masjid

Al-Jama’ah juga digunakan dalam hadits-hadits yang menunjukkan shalat dilakukan secara berjama’ah di masjid.

Utsman bin ‘Affan meriwayatkan (tercantum dalam Shahih Muslim, Hadits no. 1049) bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa shalat Isya’ berjama’ah, maka shalatnya sama dengan shalat malam (qiyamul lail) setengah malam dan barangsiapa shalat subuh berjama’ah, maka shalatnya sama dengan shalat malam (qiyamul lail) sepanjang malam.”

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Hadits no. 609 bahwa Abdullah bin Umar meriwayakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
“Shalat berjama’ah itu pahalanya 27 kali lipat daripada shalat sendirian.”
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Hadits no. 1045 bahwa Ibnu Mas’ud berkata :
“Kami menganggap seseorang yang tidak melaksanakan shalat berjama’ah di Masjid itu munafiq, bahkan bagi para pria yang sakit, mereka harus datang ke masjid dengan dipapah dua orang pria, dan Allah mengajarkan petunjuk kepada kita, dan salah satu petunjuk adalah shalat di masjid, dimana kalian dapat mendengar adzan, barangsiapa yang shalat di belakang Imam, dia berada dalam jama’ah.”

Ada empat tipe orang menurut definisi hukum dari Al-Jama’ah :
Ahlul Bid’ah (orang yang menambah-nambah hukum Islam)
Al-Firaq Al-Haalika (golongan yang menyimpang)
Ahlul Baghi (orang yang memberontak kepada Daulah Islam)
Faasiq Fajir (orang yang tidak melaksanakan ajaran Islam)

As Sunnah

Posted in Tauhid on Januari 19, 2008 by jaisyulghuroba

As Sunnah

Kata As-Sunnah adalah istilah yang terkenal yang biasa dipakai di kalangan umat Islam, yang penggunaannya menunjukkan beberapa arti berikut :
At Thoriqoh (metode, jalan kenabian, tradisi)
Al Hikmah (perkataan, perbuatan, dan persetujuan Nabi Muhammad SAW)
Al Qadla’ (takdir Allah SWT)
As-Syariah (tata cara kehidupan)
Al Aqidah (keyakinan/keimanan)
Ahlul Haq (orang-orang yang benar)
Ahlul Islam (orang-orang Muslim)
Ahlut Tauhid (orang-orang yang mentauhidkan Allah SWT)
An Nafilah (amalan yang sunnah)
Kata-kata di atas hanyalah sebuah daftar dari berbagai penggunaan istilah As-Sunnah. Di kalangan ulama Islam, penggunaan definisi As-Sunnah yang berbeda telah lama terjadi.
As-Sunnah di Kalangan Ulama
Di kalangan Ahli Hadits, sunnah berarti , “Apa yang berhubungan dengan Rosulullah Muhammad SAW ; perkataan, perbuatan, persetujuan, penjelasan dari penampilan atau karakter Beliau, serta biografi beliau baik sebelum kenabian, maupun setelah masa kenabian.”

Definisi sunnah yang diadopsi oleh Ahli Hadits adalah sebuah penjelasan bahwa orang-orang yang beriman meniru Rosulullah SAW bukan hanya dalam aktifitas ibadah, tapi dalam seluruh perbuatan. Oleh karena itu mereka membuat ta’assie (persamaan) terhadap Rosulullah SAW dalam segala hal termasuk cara beliau bergerak, berjalan, makan, duduk, tersenyum, dan sebagainya.
Di kalangan Ahli Ushul, sunnah diartikan, “Apa yang identik (berhubungan) dengan Rosulullah SAW, khususnya dalam suatu perkara yang tidak disebutkan dalam Al-Qur`an. Sehingga persoalan tersebut disebutkan oleh Rosulullah sebagai penjelas Al-Qur`an.”
Definisi sunnah di kalangan Ahli Ushul menjelaskan bahwa As-Sunnah adalah sumber hukum (berupa wahyu) kedua setelah Al-Qur`an.
Di kalangan Fuqaha Ahnaf (ulama-ulama Hanafi), sunnah berarti, “Sunnah itu segala sesuatu yang telah dibuktikan berasal dari Rosulullah Muhammad SAW, status hukumnya bukan fardhu, bukan pula wajib (untuk dikerjakan).”
Definisi di kalangan ulama Hanafi membatasi As-Sunnah kepada segala perbuatan (amalan) yang menjadi hukum syar’i yang telah dikerjakan oleh Rosulullah SAW.
Ahlus Sunnah dan Ahlus Syi’ah
Dalam penggunaan di bidang politik, sunnah atau ahlus sunnah berarti sekelompok masyarakat (komunitas) yang berlawanan dengan syi’ah. [1][1] Sehingga ketika dikatakan Ahlus Sunnah, kita mengartikannya seseorang yang percaya bahwa khalifah pertama adalah Abu Bakar, kemudian Umar, Utsman, dan Ali r.a. Sedangkan kelompok Syi’ah Rafidah berbicara tentang 12 imam dan pengetahuan mereka tentang hal ghaib serta kesempurnaan mereka.
Untuk alasan persoalan ini, sesungguhnya ada persoalan yang sangat penting yang membedakan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah Rafidiyyah selain keduanya berada dalam jalan yang berbeda.
Ahlus Sunnah dan Ahlul Bid’ah
Dalam beberapa keadaan, ketika kita berbicara tentang Ahlus Sunnah, kita mengacu kepada sebuah kelompok yang berlawanan dengan Ahlul Bid’ah, [2][2] contohnya : kelompok sufi yang menyimpang, Murji’ah, Asy’ariah, dan sebagainya.
Imam Muhammad Ibnu Sirin berkata :
“Kaum Muslimin belum pernah sebelumnya membeda-bedakan seorang pun diantara mereka, sampai fitnah terjadi. Mereka tidak pernah menanyakan tentang isnad, sampai terjadi fitnah tentang Al-Qur`an. [3][3] Setelah itu mereka terbiasa berkata : “Katakan kepada kami siapa yang mengabarkan kepadamu? Jika berasal dari Ahlus Sunnah kami akan mengambil haditsmu, jika dari orang Ahli Bid’ah kami akan meninggalkannya.”
Diriwayatkan dalam ad-Darimi ,dia (Muhammad Ibnu Sirin) juga berkata :
“Ketika seseorang mengambil bid’ah, maka dia dapat dipastikan meninggalkan sunnah.”
Imam Ash Shatibi berkata :
“Sunnah adalah lawan dari bid’ah.”

Imam Syafi’i berkata :

“Sunnah adalah apa yang aku ikuti dan aku melihat Ahli Hadits mengikutinya.”
Umar bin Khattab r.a. berkata :

“Hati-hatilah dengan orang yang mengagungkan hawa nafsu, mereka adalah musuh sunnah. Mereka begitu capek (dengan apa yang mereka lakukan) sehingga mereka tidak ingin lagi menghafal hadits. Mereka akan (didefinisikan) menjadi orang yang tersesat.”
Abdullah Ibnu Umar dan Ali bin Abu Thalib r.a. berkata :
“Al Hawa bagi seseorang yang menjadi musuh sunnah, dianggap benar. Bahkan jika kamu mencekik lehernya sekalipun, dia akan tetap berfikir itu adalah pendapat yang benar.” [4][4]
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud dan Ubay bin Ka’ab berkata :
“Hidup bersama sunnah, lebih baik daripada ijtihad dalam bid’ah.” [5][5]
Abdullah bin Abbas diriwayatkan, telah berkata :

“Akan datang suatu masa, ketika seseorang membuat suatu hal yang baru, mereka membunuh (menghilangkan) satu sunnah, sampai datang waktu ketika semua bid’ah menjadi lazim dan sunnah menjadi jarang.”
Qadi Iyad berkata :

“Saya berteman dengan orang yang terbaik, mereka semua orang sunnah, mereka melarang kemungkaran dan bid’ah.”
Diriwayatkan oleh Tirmidzi bahwa Abu Bakar Ayyas berkata :
“Orang-orang akan duduk mendengarkan ceramah ahli bid’ah yang sesungguhnya tidak pantas untuk mereka dengar. Mereka akan duduk mendengar ceramah dari beberapa orang yang berbeda. Tetapi orang Ahlus Sunnah, Allah akan mengangkat derajat dan kehormatannya. Sedangkan ahli bid’ah, tak seorang pun akan mengingatnya.”

Abu Dzar berkata :
“Ada tiga hal yang kamu tidak boleh membiarkan orang mengambilnya darimu, yaitu menyeru kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, mengikuti sunnah, dan berjihad untuk mencari ridho Allah SWT.” (Kitab Sunan Ad-Darimi hal. 532)

As-Sunnah Di Dalam Syari’ah
Dalam syari’ah, kata As-Sunnah memiliki banyak konotasi. Beberapa diantaranya, disebutkan sebagai berikut :
As-Sirah dan At-Thariqah
Al-Qadla’
Al-Hikmah
Al-Wahyu
Asy-Syari’ah
An-Naafilah
As-Sirah dan At-Thariqah
As-Sirah secara bahasa berarti jalan atau jejak dan At-Thariqah berarti “tradisi”. Sesungguhnya secara alamiah (sunatullah) ada dua jalan, Sunnatu As-Salaf Al-Mahmudah (sunnah salafus sholeh) dan Sunnatu As-Salaf Al-Mazmumah (sunnah salaf yang tercela).
Sunnatu As-Salaf Al-Mahmudah
Allah SWT berfirman dalam kitab suci Al-Qur`an :
“Allah hendak menerangkan (hukum syariat) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa (4) : 26)
Diriwayatkan dalam kitab Sunan ad-Darimi :
“Sunnah adalah prasyarat segala sesuatu”

Sunnatu As-Salaf Al-Mazmumah
Allah SWT berfirman dalam kitab suci Al-Qur`an :
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa Rosul) sebelum kamu kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak datang seorang Rosulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Demikianlah, Kami memasukkan (rasa ingkar dan memperolok-olokkan itu) ke dalam hati orang-orang yang berdosa (orang-orang kafir). Mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur`an) dan sesungguhnya telah berlalu sunatullah terhadap orang-orang dahulu.” (QS. Al-Hijr (15) : 10-13)
Allah SWT berfirman :
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, ‘Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu, dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah Allah terhadap orang-orang dahulu.” (QS.Al-Anfal (8) : 38)
Al-Qodla’ (Takdir Allah SWT)
Sunnah dalam syariat juga diketahui sebagai ‘takdir Allah’. Nama lain yang juga dipakai adalah ‘sunatullah’ (ketetapan yang berdasarkan kekuasaan Allah).
Allah SWT berfirman :
“Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu.” (QS. Al-Fath (48) : 23)
Al-Hikmah
Al-Hikmah biasanya digunakan untuk memberi makna dalam persoalan fiqh (ketetapan hukum). Bagaimanapun juga, ketika Allah SWT menyebut kata Al-Hikmah ini berhubungan dengan kata “Qur`an” atau “Kitab” dan mempunyai arti Sunnah.
Allah SWT berfirman :
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al-Qur`an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah : 129)
Allah SWT berfirman :
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rosul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al Hikmah, serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah : 151)
Allah SWT berfirman :
“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah ni’mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab (Al-Qur`an) dan Al Hikmah (As-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al Baqarah : 231)
Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Ali Imran (3) : 164)
“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka telah bermaksud untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat memberi sedikitpun mudharat kepadamu. Dan juga karena Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An-Nisa (4) : 113)

Dalam tafsirnya, Abdullah Ibnu Abbas berkata :
“Kitab dan Hikmah bermakna Al-Qur`an dan As-Sunnah.”
Al-Wahyu
Di dalam syariat, Sunnah juga bermakna ‘wahyu’ dari Allah SWT. Wahyu terbagi dua macam. Wahyu yang berbentuk Al-Qur`an dan wahyu yang berbentuk Al-Hadits.
Allah SWT menyebutkan keduanya di dalam ayat berikut :
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Ahzab (33) : 34)
Juga dalam firman Allah SWT :
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatnya kepada mereka.” (QS Al Jumu`ah (62) : 2)
Rasulullah SAW bersabda :
“Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, selama kalian tetap berpegang pada keduanya sepeninggalku, maka kalian tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah dan sunnahku.” (Muwatta Imam Malik, hal 899 Hadits no. 1395)
Muadz bin Jabal bercerita ketika dia ditugaskan ke Yaman, Rasulullah SAW bersabda :
“Dengan apa engkau menghukumi, bila diajukan kepadamu suatu perkara?” Muadz menjawab : “Saya memutuskan dengan Kitabullah.” Beliau bertanya : “Kalau kamu tidak menemukannya dalam Kitabullah ?” Dia (Muadz) menjawab: “Saya akan memutuskan dengan Sunnah Rasulullah.” Beliau bertanya lagi : “Kalau kamu tidak menemukannya dalam Sunnah Rasulullah ?” Dia menjawab : “Saya akan berijtihad dengan pendapatku, dengan sekuat tenaga.” (Sunan ad-Darimi, hal 60. Hadits no. 168)

Abdullah bin Umar berkata kepada Jabir :
“Wahai Abu Sha’fah, kamu seorang faqih dari Basra, jangan memberi fatwa kecuali dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Jika kamu mengikuti selain dari itu, maka kamu akan celaka dan kamu juga akan menyesatkan orang lain.”

Diriwayatkan dalam Sunan ad-Darimi, bahwa Abu Salamah berkata kepada Hasan Al-Basri :
“Tidak ada seorangpun dari kota Basra yang ingin saya temui kecuali kamu, tetapi saya berubah fikiran ketika saya mendengar kamu memberi fatwa dari akalmu (menggunakan logika).”

Imam Uzai’i meriwayatkan :
“Jibril as. Biasa turun membawa Sunnah kepada Nabi Muhammad SAW sama dengan cara dia datang kepada Nabi membawa Al-Qur`an.” (Sunan ad-Darimi, Hadits no. 587)
Asy-Syariat
Imam Asy-Syafi’i dan Hasan Al-Basri berkata :
“Asy-Syariat adalah As-Sunnah.”
Syekhul Islam, Ibnu Taimiyyah berkata :

“Sunnah adalah Syariat ; apa yang Allah SWT dan Rasul-Nya tetapkan sebagai hukum dari agama (Islam).”
Lawan Dari Bid’ah
Kami telah menunjukkan bahwa Sunnah diambil untuk menunjukkan lawan bid’ah.
Rasulullah SAW bersabda :
“Berhati-hatilah terhadap perubahan yang baru dalam agama, setiap perubahan yang baru (bid’ah) adalah sesat.” (Shahih Bukhari, Jilid 13, hal 149)
Diriwayatkan oleh Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda :
“Barangsiapa yang melakukan perbuatan yang tidak didasarkan pada ajaranku, maka perbuatan itu adalah dosa (tertolak).” (HR. Bukhari)

Dalam suatu kesempatan Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah, Beliau berkata dalam khutbahnya :
“Takutlah kepada Allah, dengarkan dan taatilah perintah Amir (pemimpin) walaupun ia berasal dari seorang budak. Sepeninggalku kamu akan melihat beberapa perpecahan dan banyak hal baru yang tidak berasal dariku, berhati-hatilah terhadap perubahan (bid’ah) karena setiap bid’ah adalah kesesatan (dlalalah).” (HR.Tirmidzi, Hadits no. 2600)
Dalam syariat, Sunnah juga ditemukan untuk menunjukkan amalan nafilah. Sebagai contoh, shalat dua raka’at setelah shalat maghrib dikenal sebagai Sunnah Rasul, atau shalat tahajjud yang dilakukan sepertiga terakhir malam, semuanya mengacu pada amalan (Sunnah) sebagai lawan dari amalan fardhu (wajib).
Ushuluddin
Di dalam syariat, Sunnah sering diartikan sebagai “pondasi agama”, yaitu sesuatu yang mengacu kepada Aqidah dan dasar Islam. Seluruh kitab Aqidah untuk Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah disebut kitab As-Sunnah. Di bawah ini adalah contoh-contoh kitab As-Sunnah :
Kitab As-Sunnah, Imam Ahmad bin Hanbal (Wafat 242 H)
Kitab As-Sunnah, Abdullah bin Ahmad (Wafat 290 H)
Kitab As-Sunnah Abu Bakar bin Al-Athram (Wafat 272 H)
Kitab As-Sunnah, Ibnu Abi Aasim (Wafat 287 H)
Kitab As-Sunnah, Muhammad bin Nasr Al-Marwazi (Wafat 294 H)
Kitab As-Sunnah, Abu Ja’far Al-Tahawi (Wafat 310 H)
Kitab As-Sunnah, Imam Ahmad bin Muhammad (Wafat 311 H)
Kitab Sharh Ushul As-Sunnah, Ibnu Batta Al-Akburi (Wafat 387 H)
Kitab As-Sunnah, Ibnu Abi Zamnin (Wafat 399 H)

[1][1] Kita tidak bicara tentang Syi’ah di masa Imam Ali r.a., mereka dari kalangan Ahlus Sunnah. Kita bicara tentang kelompok Syi’ah Rafidah yang ada sekarang ini.
[1][2] Al Bid’ah diambil dari akar kata bada’a yang mempunyai arti membuat sesuatu yang baru yang belum pernah ada sebelumnya atau juga berarti menemukan sesuatu yang baru. Al-Bid’ah kemudian diartikan sebagai sebuah penemuan baru atau sesuatu yang baru diadakan/dibuat. Dalam syariat, bid’ah didefinisikan sebagai sesuatu yang baru yang dimasukan ke dalam agama Islam, baik itu perkataan atau perbuatan, yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan penekanan pada pengingkaran kepada Allah SWT.
[1][3] Bid’ah mulai terjadi pada masa Imam Ahmad, dimana orang-orang mulai mengatakan bahwa Al-Qur`an adalah kreasi (makhluk) Allah SWT (Untuk lebih jelas, lihat lampiran)
[1][4] Kitabul Sharh , hal 112
[5][5] Sunan ad Darimi, Jilid 1, hal 72

Biografi Pengawal Pribadi Usamah, Syaikh Yusuf Al ‘Uyairi

Posted in Profil on Januari 18, 2008 by jaisyulghuroba

Inilah salah seorang mujahid yang kuat dan cerdas. Beliau adalah kepercayaan Syaikh Usama sehingga menjadi pengawal pribadi beliau. Beberapa tahun yang lalu telah diberi rahmat biiznillah dengan mendapatkan salah satu dari dua kebaikan, yaitu syahadah. Kebaikan yang lainnya telah beliau rasakan di medan-medan jihad yang telah di gelutinya sejak belia.

Kali ini, kita akan mengenal lebih dalam sosok mujahid yang banyak dilupakan para pemuda jihad hari ini, beliau adalah Syaikh Mujahid Yusuf al-Uyairi -semoga Alloh menerima beliau sebagai syuhada-, beliau adalah sosok generasi shahabat yang terlahir kembali pada zaman kita sekarang ini, sungguh manhaj salaf itu bukan hanya teori dan kata-kata, tetapi ia adalah amal nyata sebagaimana yang di buktikan oleh Syaikh Yusuf… wahai para pemuda lihatlah kepada Syaikh yang mulia ini, semoga kita bisa mengambil ibroh dari kehidupan dan kesyahidan beliau biiznillah…

Nama : Syaikh Mujahid Al Hafidh Abu Muhammad Yusuf bin Sholih bin Fahd Al ‘Uyairi -rahimahullahu ta’ala-
Lahir : Senin 1/4/1394 H
Anak : 3 orang anak perempuan.
Syahid : beliau syahid di tangan tentara thoghut Saudi pada hari sabtu malam ahad 30/3/1424 H di daerah Hail. Umur beliau ketika syahid adalah 30 tahun. Semoga Alloh merahmati beliau dengan rahmat yang luas.

Semoga Allah melimpahkan kasih-Nya kepadamu wahai Yusuf al ‘Uyairi ! engkau mengejar kesyahidan di Afganistán dan di Somalia, tetapi ia malah datang menemuimu di negeri Jazirah Arab di tangan rezim murtad Su’udiyah.

Beliau menikah dengan seorang wanita dari keluarga Ash Shoq’abi, Buroidah. Istrinya adalah saudara kandung dari istri Syaikh Sulaiman Al ‘Ulwan.

Setelah menamatkan madrasah mutawassithoh (SLTP) melanjutkan ke madrasah tsanawiyah (SLTA) hanya selama tiga bulan. Kemudian beliau tinggalkan sekolah dan pergi berjihad ke Afghanistan.

Setelah itu beliau pergi ke Afghanistan sebagai seorang pemuda yang perkasa sementara umurnya belum lewat 18 tahun. Di sanalah akhirnya jihad berbaur dengan hatinya dan menguasai seluruh anggota badannya.

Beliau dikaruniai otak yang jenius, pandangan yang tajam dan hafalan yang kuat sehingga setelah itu beliau mampu menjadi salah satu pelatih di kamp Al Faruq pada masa perang Afghanistan pertama melawan Uni Soviet.

Beliau menyelesaikan latihan selama beberapa tahun, di mana beliau memiliki kelebihan dalam kemauan yang kuat dan kesungguhan. Sampai-sampai beliau pernah mengadakan sebuah training di kamp Al Faruq, di mana ketika itu beliau mengatakan kepada ikhwah yang lain: “Saya akan mengadakan sebuah latihan yang tidak akan ada seorangpun mampu mengikuti dan menyelesaikannya selain orang-orang yang memiliki tekad kuat.” Beliau mengatakan kepada ikhwah: “Dalam training tersebut saya akan mulai dengan latihan senjata-senjata berat dan akan diakhiri dengan senjata-senjata ringan. “

Para ikhwah menceritakan bagaimana hafalan beliau yang sangat luar biasa mengenai berbagai persenjataan dan data-data yang sangat mendetail mengenai senjata-senjata tersebut. Selain itu beliau memiliki kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kesusahan yang beliau temui dalam berbagai pertempuran yang dengannya Alloh muliakan beliau dengan debu peperangan yang menempel pada kedua kaki beliau.

Ketika terjadi pertikaian antar kelompok jihad di Afghan paska runtuhnya Soviet, Syaikh Yusuf menjadi pengawal pribadi Syaikh Usamah bin Ladin hafidhohulloh. Kemudian tatkala Syaikh Usamah memutuskan untuk pergi ke Sudan dengan menggunakan sebuah pesawat, Syaikh Yusuf termasuk salah seorang petinggi Al Qaeda yang menyertai Syaikh Usamah bin Ladin. Di sana Syaikh Yusuf tinggal selama empat bulan, dan selama itu pula beliau menjadi bodyguard Syaikh Usamah bin Ladin hafidhohulloh.

Selama masa itu Syaikh Usamah mengenal berbagai kemampuan dan kecemerlangan berfikir Syaikh Yusuf Al ‘Uyairi, sehingga Syaikh Usamah menceritakan kepada Syaikh Yusuf beberapa urusan-urusan pentingnya.

Syaikh Yusuf juga ikut dalam peperangan yang berkecamuk di Somalia melawan pasukan Amerika. Dan beliau termasuk orang yang memiliki peran penting dalam mengusir dan mengalahkan pasukan Amerika, pada masa itu para pemuda Islam seusia beliau tengah lalai dengan kondisi umat.

Dan ketika terjadi tragedi Bosnia, Syaikh Yusuf memiliki peran yang sangat besar bersama para ikhwah di Damam, dan demikian pula di Kosova. Beliau berperan sebagai pengumpul dana untuk mereka dan memberikan bantuan kepada mereka semampu beliau. Beliau membuat sebuah program selama dua minggu bagi siapa saja yang ingin pergi ke Bosnia. Program itu berupa latihan fisik dan lain-lain yang dibutuhkan sebelum sampai ke bumi Bosnia.

Kemudian terjadi peledakan di Khobar, Arab Saudiyah. Beliaupun dipenjara dan disiksa dengan siksaan yang keras di penjara reserse umum, Damam, dengan tuduhan beliau termasuk orang-orang yang melakukan peledakan tersebut. Para ikhwah yang bersama beliau bercerita tentang beliau: Kami lihat beliau diangkut memakai usungan setiap kali selesai diintrogasi, lantaran berbagai siksaan berat yang beliau alami. Beliau dicambuk dengan keras, dicabuti jenggot beliau yang suci dan berbagai siksaan lainnya yang menyebabkan akhirnya Syaikh Yusuf mengaku kepada anjing-anjing reserse Saudiyah bahwa dialah yang melakukan peledakan.

Syaikh Yusuf rohimahulloh mengatakan (kepada Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah-): Setelah beberapa hari kulalui dalam penjara, dalam penyidikan dan penyiksaan yang luar biasa, aku meminta kepada polisi untuk bertemu dengan pimpinan penjara karena aku ingin menyampaikan kepadanya informasi penting. Benar saja, permintaanku dikabulkan. Akupun dipanggil dari sel dan aku didudukkan di atas sofa yang sangat mewah pada sebuah ruangan. Kemudian mereka membawaku ke kantor pimpiman tertinggi yang di sekelilingnya para polisi yang telah siap dengan pena dan buku tulis di tangan yang akan menulis semua pengakuan yang akan aku sampaikan kepada mereka. Ketika mereka mendudukkanku dalam keadaan dirantai, pemimpin penjara itu mengatakan kepadaku: Informasi apa yang kamu miliki? Silahkan sampaikan pengakuanmu …

Maka dengan dingin aku katakan kepada mereka: Aku tahu bahwa kalian malu tidak mendapatkan informasi tentang orang yang melakukan peledakan itu. Akan tetapi aku akan merelakan diriku untuk kalian. Aku akan memberikan pengakuan bahwa akulah yang melakukan peledakan itu dan aku siap menebus tanggung jawab itu dengan nyawaku. Ketika aku tanyakan kepada Syaikh Yusuf kenapa beliau melakukan hal itu, beliau menjawab: Demi Alloh kami tidak sanggup merasakan penyiksaan. Iman kami hampir-hampir rusak karenanya. Maka kematian itu lebih ringan bagi kami daripada penyiksaan. Syaikh Yusuf melanjutkan: Ketika aku selesai berbicara pimpinan penjara langsung melemparkan asbak kaca ke wajahku, dan mengatakan: Keluarkan dan beri pelajaran dia!..

Kemudian penyiksaan yang luar biasa pun terus berlanjut sampai akhirnya Alloh berkenan untuk menyingkap siapa aktor peledakan yang sebenarnya sesuai pengakuan reserse. Syaikh Yusuf bercerita kepadaku: Suatu saat aku dibawa menghadap kepada polisi. Lalu dengan bisik-bisik dia mengatakan kepadaku: Kusampaikan kabar gembira kepadamu. Kami telah mengetahui aktor peledakan yang sebenarnya. Dia bukan dari kelompokmu akan tetapi dari kalangan Rofidloh (Syi’ah) akan tetapi jangan kamu beritahukan kepada siapapun..!! Kemudian mereka mengembalikanku ke dalam sel.

Mulai saat itu penyiksaan kepada para pemuda mujahidin berhenti, khususnya yang terkait dalam kasus peledakan. Kemudian pimpinan penjara mengumpulkan semua petugas dan mengatakan kepada mereka: Berikan kepada masing-masing tersangka peledakan tuduhan lain yang dapat menjerat mereka secara hukum!! Benar saja, masing-masing ikhwah diberikan satu tuduhan baik berupa takfir (suka mengkafirkan orang Islam) atau yang lainnya. Kemudian mereka dijatuhi hukuman oleh pengadilan Saudi ..

Kemudian setelah itu Syaikh Yusuf tinggal di penjara. Di mana beberapa waktu pernah beliau dikumpulkan bersama orang-orang Rofidloh (Syi’ah) yang diantaranya ada yang setingkat ayatulloh atau sayyid. Di sana Syaikh Yusuf berdialog dan berdiskusi dengan mereka dengan cerdas dan hujjah yang kuat sampai-sampai ayatulloh mereka melarang orang-orang Rofidloh lainnya untuk mendekatinya atau bergaul dengannya. Syaikh Yusuf berkata: Pernah suatu saat aku pura-pura tidur. Lalu ayatulloh mereka mulai berbicara dan menyampaikan ceramah kepada Rofidloh lainnya. Lalu aku dengarkan ceramahnya sampai ketika aku mendapatkan kesempatan yang tepat aku bangun dan membantah ceramah-ceramahnya .. Mereka semua terkagung dengan Syaikh Yusuf karena kuatnya hujjah dan penjelasan beliau.

Setelah itu Syaikh Yusuf dipindah ke penjara umum bersama Ahlus Sunnah. Setelah berjalan beberapa waktu Syaikh Yusuf mogok makan karena beliau ingin disel (penjara individu) saja supaya beliau dapat menggunakan waktu secara maksimal dan dapat menyendiri dengan Robbnya. Maka permintaannyapun dipenuhi sehingga beliau tinggal di dalam sel selama satu setengah tahun lebih. Setelah itu beliau bebas …

Menghargai Waktu

Ketika Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah- bertanya kepada Syaikh Yusuf mengenai kehidupannya di sel dan apakah beliau merasa bosan? Beliau menjawab dengan satu kata: Demi Alloh aku tidak memiliki waktu untuk mandi kacuali mandi janabat dan aku tidak tidur kecuali sedikit. Aku berpacu dengan waktu!!..

Di sel beliau gunakan waktu untuk menghafal dan membaca buku-buku ilmiyah. Maka beliau hafal Al Qur’an secara lancar dan tepat, hafal Shohih Al Bukhori dan Muslim, beliau konsentrasi membaca dan mentelaah kitab-kitab para ulama’, sehingga pada suatu hari pernah seorang penjaga mengatakan kepada beliau: Demi Alloh aku kasihan dengan kondisimu ..?!

Maka Syaikh Yusuf mengatakan kepadanya: Demi Alloh justeru akulah yang kasihan dengan kondisimu. Hendaknya kamu tahu bahwa seandainya ditawarkan kepadaku bahwa sehari itu diperpanjang menjadi 28 jam pasti aku setuju karena saat ini aku tengah mencari waktu, wahai orang yang malang!!.

Hal itu karena penjaga itu merasa heran dengan kondisi Syaikh Yusuf dalam membaca dan menelaah. Di mana beliau tidak keluar untuk berjemur atau untuk yang lainnya kecuali untuk kepentingan yang mendesak, karena saking kuatnya keinginan beliau dalam memanfaatkan waktu secara maksimal. Syaikh Yusuf pernah mengatakan kepadaku: Demi Alloh aku pernah merasakan hidup dalam keimanan dan kenikmatan di dalam penjara, di mana tidak ada yang mengetahui kenikmatan tersebut kecuali Alloh kemudian orang yang mengalaminya. Dan tatkala datang utusan yang menyampaikan kebebasan beliau dari penjara, tanpa sadar beliau gertak utusan tersebut:” Semoga Alloh tidak akan memberikan kabar gembira kepadamu!!” ” Itu saya lakukan di luar kesadaranku akan tetapi itu ku lakukan karena saking besarnya kenikmatan yang aku dapatkan dalam penjara, dan betapa besarnya ilmu yang ku dapatkan dalam penjara.” kata beliau kepada Asy Syahid Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah-.

Dan ketika Syaikh Yusuf bebas dari penjara beliau teruskan hubungan beliau dengan jihad dan mujahidin, khususnya dengan Syaikhul Mujahidin Usamah bin Ladin hafidlohulloh.

Kemudian datanglah peristiwa Chechnya, dan beberapa saat sebelumnya peristiwa Dagestan, maka Syaikh Yusuf pun mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mereka. Beliau menulis berbagai kajian syar’i untuk situs Shoutul Jihad. Untuk situs itu beliau menulis buku-buku sebagai berikut:
1. Hidayatul Hayaro Fi Hukmil Usaro,
2. Al ‘Amaliyat Al Istisyhadiyah Intiharun Am Syahadah, dan juga kajian-kajian strategis lainnya di mana yang terakhir adalah yang buku yang berjudul ‘Amaliyatul Masrohi Fi Moskow Wa Madza Istafada Minha Al Mujahidun.

Syaikh Yusuf juga menjalin hubungan dengan Komandan Khothob dan melakukan surat-menyurat mengenai persoalan militer. Di mana Syaikh Yusuf memberikan taktik-taktik militer yang cemerlang yang mencengangkan setiap orang yang bergaul dengannya atau membacanya … di antaranya adalah beliau pernah berkirim surat kepada Khothob seusai perang konvensional yang pertama yang kemudian disusul dengan perang gerilya, di mana ketika itu kondisi mujahidin semakin sulit. Maka Syaikh Yusuf mengirim surat kepada komandan Khothob yang isinya adalah 18 prediksi perang dan apa yang harus mereka lakukan untuk masing-masing dari yang diprediksikan tersebut. Komandan Khothob pun banyak mengambil manfaat dari surat tersebut dan berterimakasih banyak kepada Syaikh Yusuf.

Syaikh Yusuf juga memiliki andil dalam mengumpulkan dana untuk mujahidin Chechnya. Di mana beliau berhasil mengumpulkan dana yang banyak sekali. Dan dalam rangka itu, terjadilah banyak kasus yang sangat disayangkan antara beliau dengan beberapa ulama’. Para ulama’ tersebut mengabaikan beliau dan tidak mau membantunya. Misalnya adalah pengalaman beliau bersama Syaikh Salman Al ‘Audah. Ketika itu Komandan Khothob mengatakan kepada para ikhwah pada saat masih di Dagestan:” Berikan satu juta dollar supaya kami dapat bertahan melawan Rusia sampai akhir musim dingin ..”

Maka Syaikh Yusuf pun pergi menemui seorang kaya, dan orang kaya itupun bersedia untuk memberikan 8 juta real kepadanya akan tetapi dengan syarat Syaikh Salman mau membuat memo kepadanya atau menelphonya. Maka Syaikh Yusuf pun pergi menemui Salman Al ‘Audah akan tetapi usahanya ini tidak membuahkan hasil. Syaikh Salman selalu mengulur-ulur waktu kemudian pada akhirnya mengatakan kepada Syaikh Yusuf:” Sebenarnya aku ini sama sekali tidak senang dengan persoalan Chechnya.!!”

Demikianlah. Syaikh Yusuf meneruskan langkah jihadnya yang penuh dengan pengorbanan dan kerja keras yang hanya sedikit saja orang yang mampu melakukannya.

Hubungan Syaikh Yusuf dengan persoalan Chechnya pun terus berlanjut. Akan tetapi semakin mengecil karena beliau tersibukkan dengan persoalan Afghanistan dan pemerintahan Tholiban. Ketika itu beliau mencurahkan kebanyakan waktunya untuk mempelajari gerakan ini dan kredibilitasnya. Kemudian datanglah hari-hari yang penuh berkah di mana patung-patung Budha di Afghanistan dihancurkan. Maka Syaikh Yusufpun memusatkan perhatiannya kepada persoalan ini dan membuat proyek-proyek buka puasa dan penyembelihan qurban di Afghanistan. Kemudian beliau menghubungi Amirul Mukminin dan para menteri Tholiban, kemudian Syaikh Yusuf berusaha untuk menghubungkan mereka semua dengan Syaikh Hamud bin ‘Uqla’ rohimahulloh. Pada musim haji tahun 1421 H Syaikh Yusuf bertemu dengan beberapa menteri Tholiban yang datang untuk menunaikan haji dan beliau bersama para menteri tersebut hendak membuat hubungan telephon antara Amirul Mukminin dengan Syaikh Hamud bin ‘Uqla’ rohimahulloh, tepatnya setelah hari-hari tasyriq jam 9 sore. Syaikh Yusuf mengatakan kepada Asy Syahid Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah-: “Kami berangkat meninggalkan Mekah sementara kami berpacu dengan waktu. Sementara kami tidak memiliki pilihan lain selain melanjutkan perjalanan karena Syaikh Hamud berada di Qoshim. Sementara kami dalam keadaan kecapaian. Maka aku putuskan untuk mengemudikan mobil secara bergantian. Jika dia mengemudikan mobil maka aku usahakan tidur, kemudian aku mengemudikan mobil dan dia istirahat .. Kami pun terus meneruskan perjalanan sampai akhirnya aku ketiduran dan tidak terbangun kecuali ketika mobil sudah terbalik setelah menabrak onta peliharaan. Maka kamipun akhirnya gagal untuk bertemu. Dan sebenarnya selama itu telah terjadi sebuah peristiwa yang unik bersama para petugas reserse, akan tetapi atas bimbingan Alloh beliau telah bebas satu bulan sebelum peristiwa 11 september, untuk suatu perkara yang Alloh inginkan.”

Dan tatkala beliau bebas dari penjara, beliau memiliki jasa yang besar dalam menulis mengenai jihad, mengupas berbagai persoalannya berdasarkan dalil syar’i, membelanya dan membantah berbagai syubhat yang disebarkan oleh para mukhodzil (pelemah semangat jihad) dan munafik. Beliau juga ikut aktif di beberapa forum paltalk dengan nama Azzam.

Syaikh Yusuf rohimahulloh sibuk untuk melatih para pemuda dan menghasung mereka agar pergi ke Afghanistan untuk bergabung dengan kamp-kamp latihan di sana. Beliau menerbitkan empat kaset rekaman untuk mengobarkan semangat jihad dan i’dad. Di antaranya adalah sebuah kaset rekaman yang memuat materi fikih dengan suara beliau.

Kemudian terjadi peristiwa besar dalam sejarah Afghanistan yaitu dibunuhnya komandan yang keji Ahmad Syah Mas’ud. Ketika itu kegembiraan Syaikh Yusuf tidak terbayang.

Setelah itu terjadilah serangan yang penuh berkah di Amerika, sarang kekafiran. Maka rasa-rasanya Syaikh Yusuf mau terbang lantaran senangnya. Ketika itu Asy Syahid Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah- menghubungi Syaikh Yusuf, beliau mengatakan kepadaku bahwa beliau sedang ada pertemuan dengan para ulama’ Qoshim. Di sana ada beberapa ulama’ yang mengkritisi serangan yang terjadi di Amerika itu!!

Beliau juga menceritakan kepada Asy Syahid Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah- mengenai beberapa diskusi dan pertemuan dengan para ulama’ tersebut yang akhirnya dapat menimbulkan dampak yang baik pada mereka dalam mendukung jihad dan mujahidin.

Setelah itu Syaikh mulai menulis bukunya yang bagus yang berjudul Haqiqotul Harbish Sholibiyah, dalam buku itu beliau mengemukakan dalil-dalil amaliyah istisyhadiyah dan membantah berbagai syubhat yang muncul seputar persoalan ini. Di dalam buku itu beliau juga menyeru umat agar bangkit dari kelalaian yang tengah kita alami. Ini merupakan buku bagus dalam persoalan ini, yang ditulis oleh Syaikh Yusuf selama sembilan atau sepuluh hari!!

Sampai-sampai tatkala buku itu sampai kepada Syaikh Usamah, beliau mengatakan kepada para ikhwah: Sepertinya buku ini telah ditulis sebelum terjadi serangan. Karena tidak mungkin buku ini ditulis secapat itu!!

Padahal Asy Syahid biiznillah Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah- berani bersumpah demi Alloh bahwa Syaikh Yusuf tidak menulis buku itu kecuali setelah peristiwa serang tersebut, akan tetapi beliau memang berkonsentrasi penuh sampai akhirnya beliau menyelesaikan kajian fikih, hadits dan ushul fikih ini yang tidak ada seorangpun dapat membantahnya.

Demikianlah, Syaikh Yusuf itu banyak jasanya dalam memperbanyak barisan ulama’ yang mendukung serangan 11 september karena alasan-alasan ilmiyah yang beliau ungkapkan dalam buku tersebut, dengan menggunakan ungkapan yang sederhana namun serius dan sarat dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan Sunnah.

Dan ketika beliau selesai menulis buku tersebut, beliau langsung melakukan koreksi akhir terhadap bukunya yang berjudul Al Mizan Li Harokati Tholiban. Kemudian selesai dan beliau sebarkan.

Demikianlah tulisan-tulisannya terus bergulir ibarat air yang mengucur, yang memancarkan cahaya Al Qur’an dan Sunnah, di antaranya adalah:

1- Daurun Nisa’ Fi Jihadil A’da’ yang diterbitkan secara ilegal dengan menggunakan nama ‘Abdulloh Az Zaid.

2- Tsawabit ‘Ala Thoriqil Jihad, dalam buku ini beliau menulis prinsip-prinsip jihad yang ditulis dalam beberapa seri yang terpisah-pisah.

Juga tulisan-tulisan lainnya yang disebarkan di Markaz Ad Dirosat dan di forum-forum umum di internet.

Hal yang sangat menyedihkan hati Syaikh Yusuf adalah adanya para ulama’ yang acuh dengan jihad, sampai-sampai pada suatu saat Asy Syahid Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah- ingat ketika berbincang-bincang dengan beliau mengenai sikap acuh para ulama’ terhadap jihad, beliau berbicara dengan kata-kata yang sangat berkesan kemudian beliau menangis!!.

Oleh karena itulah beliau menulis berbagai buku dan bantahan dengan tujuan pokok adalah membela kehormatan saudara-saudara kita mujahidin yang berada di daerah-daerah perbatasan (tsughur).

Beliau juga berperan aktif dalam menulis serial perang salib terhadap Irak yang diangkat di situs Ad Dirosat, di sana beliau memiliki peran yang sangat besar bahkan tulisan-tulisan beliau di sana hampir mencapai 80%.

Beliau dikaruniai Alloh dengan ungkapan yang sangat mendalam, sabar dan ulet yang menjadikan beliau tidak henti-hentinya dalam membuat tulisan-tulisan syar’i dan analisa-analisa politik, semoga Alloh merahmati beliau dengan rahmat yang seluas-luasnya.

Memang Syaikh Yusuf sendiri telah dikenal di kalangan banyak ulama’ memiliki sifat-sifat tersebut, mereka mengakui bahwa Syaikh Yusuf adalah orang yang memiliki kelebihan dan keunggulan dalam hal itu.

Syaikh Yusuf adalah orang yang sangat ulet dan sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan kasus. Seringkali beliau diuji dengan kawan dan orang yang ia cintai di medan jihad yang mati syahid, terluka dan tertawan. Akan tetapi meskipun demikian beliau tetap ridlo dengan ketetapan dan taqdir Alloh, serta pasrah kepada apa yang telah ditetapkan oleh Robbnya terhadap dirinya.

Syaikh Yusuf adalah orang yang berhati lembut, berperasaan sensitif dan cepat mengalirkan air mata. Khususnya apabila bercerita tentang mujahidin dan pengorbanan di jalan Alloh. Ketika beliau menceritakan Abu Hajir Al ‘Iroqi yang ditahan di penjara Amerika mengenai profil dan pengorbanannya, kemudian beliau menangis terisak-isak!!.

Apabila beliau menyampaikan nasehat terdengar suara tangis dan khusyu’, khususnya apabila mengingatkan mengenai Alloh, akherat, jihad dan mati syahid di jalan Alloh.

Beliau juga menegaskan akan hubungan jihad dan perasaannya dengan aqidah yang benar dan dengan ilmu syar’i. Beliau mengatakan bahwa kita harus menjelaskan kepada manusia bahwa jihad itu tidak lain adalah usaha untuk merealisasikan tauhid dan mewujudkan konsekuensi-konsekuensi kalimat syahadat laa ilaaha illalloh Muhammad rosululloh. Kita harus ikat manusia dengan perkara ini supaya dari satu sisi mereka mengetahui pentingnya jihad, dan dari sisi yang lain agar mereka tetap teguh di jalan ini. Beliau selalu mengingatkan Asy Syahid Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah- dengan perkataan Syaikh ‘Abdulloh ‘Azzam rohimahulloh mengenai hal ini: “Gambaran yang engkau bawa ke medan jihad lain dengan gambaran yang engkau bawa pulang dari medan jihad.” Maksudnya adalah sejumlah orang pergi ke medan jihad hanya karena terdorong emosi saja terhadap sebuah gambaran yang ia lihat berupa penyiksaan orang Islam atau pemerkosaan wanita muslimah. Emosi semacam ini memang baik akan tetapi yang lebih baik adalah hendaknya seorang mujahid itu berangkat berjihad berdasarkan sebuah keyakinan yang mendalam terhadap wajibnya menempuh jalan jihad ini dan sejauh mana hubungannya dengan aqidah tauhid, serta menghidupkan tekad untuk menyerbarkannya di tengah-tengah manusia, dan menegakkan daulah yang melaksanakan dan merealisasikan jihad.

Seluruh kenikmatan dunia ini telah terpampang di hadapan Syaikh Yusuf. Akan tetapi ia talak tiga semua kenikmatan dunia itu. Beliau lebih memilih untuk hidup sebagai orang yang mulia sampai ia meraih apa yang ia inginkan. Ayahnya seorang saudagar yang Alloh berikan kesuksesan. Akan tetapi Yusuf tidak memiliki perhatian terhadap dunia. Yusuf sendiri mendapatkan dukungan dan ridlo dari ayahnya terhadap kehidupan jihad yang ia pilih itu. Terlebih lagi ibunya. Manita mulia tersebut sering kali memberikan dukungan dan pengukuhan, bahkan senantiasa memberi nasehat kepada Syaikh Yusuf agar tidak menyerahkan diri .. Sungguh demi Alloh, ia adalah seorang ibu yang mulia yang melahirkan seorang pahlawan gagah berani yang tidak takut mati ..

Syaikh Yusuf adalah orang yang sangat tawadlu’, sampai-sampai ia tidak menghargai dirinya sendiri. Dan jika engkau bersanding dengan beliau, pasti beliau meyakini bahwa engkau adalah orang yang lebih mengerti dan lebih paham daripada dirinya. Ia tidak suka untuk mendahului dalam berbicara khususnya terhadap orang yang berilmu atau seorang penuntut ilmu. Ketawadlu’annya ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buatnya akan tetapi ini merupakan watak bawaannya yang Alloh anugerahkan kepada beliau.

Beliau ini adalah ibarat esiklopedi ilmiyah dalam semua persoalan. Jika ia berbicara mengenai ilmu syar’i tentu kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang ulama’ yang faqih. Dan apabila ia berbicara mengenai persoalan politik pasti kita akan mengatakan bahwa ia adalah seorang politikus yang handal. Selain itu beliau juga memiliki perhatian menganai ilmu komputer dan programming. Beliau juga menguasai ilmu-ilmu militer sebagaimana seorang komandan yang cerdik. Beliau juga menguasai tophographi, teghnologi dan elektronik.

Alloh berikan anugerah kepadanya untuk diterima di hadapan manusia. Sehingga tidak ada seorangpun yang bertemu dengannya kecuali pasti orang tersebut akan mencintai Syaikh Yusuf. Aku belum pernah menemukan seorangpun yang mencela beliau dari sisi akhlaq atau karakter, akan tetapi justeru beliau diterima di hadapan manusia karena beliau memiliki akhlaq yang baik dan perilaku yang bersih, demikianlah beliau dalam pandangan kami dan hanya Alloh sajalah yang tahu.

Beliau rohimahulloh senantiasa mengajak para pemuda dan mujahidin agar meninggalkan kemewahan dan kenikmatan, dan beliau mengajak mereka untuk hidup secara sederhana agar jiwa itu terbiasa untuk sabar dan memikul kesusahan di bumi jihad. Pernah selama berhari-hari beliau tidak makan kecuali sedikit padahal beliau adalah orang yang berkecukupan, akan tetapi beliau ingin membiasakan diri untuk hidup susah.

Beliau adalah orang yang dermawan, tidak merasa berat untuk memberi dan berkorban kepada saudara-saudaranya. Namun demikian beliau adalah orang yang kuat memegang amanah dan sungguh-sungguh dalam menjaga harta mujahidin yang ada di tangannya sehingga ia berikan harta itu kepada orang yang berhak atas harta tersebut.

Menjadi DPO Rezim KeluargaSu’ud

Beliau masuk DPO rezim Saudi atas permintaan Amerika. Mereka meminta agar beliau menyerahkan diri selama satu tahun lebih, namun beliau menolak untuk menyerahkan diri atau menghinakan diri dalam persoalan agama. Al Hamdulillah, beliau melakukan hal itu dan selama itu beliau dapat melakukan banyak jasa besar untuk Islam dan umat Islam, padahal jasa-jasa itu sewajarnya tidak dapat dilakukan kecuali dalam tempo lima tahun!!..

Aku -Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin rahimahullah- sampaikan itu semua bukan untuk melebih-lebihkan, demi Alloh bukan. Akan tetapi ini adalah sebagai informasi mengenai apa yang aku lihat, bahkan ini hanya sebagian dari apa yang kulihat .. Pernah selama berjam-jam beliau tidak istirahat atau tidur. Bahkan terkadang selama beberapa hari beliau tidak tidur .. di dalam jadwal hariannya tidak ada waktu tidur kecuali hanya sedikit yang hanya cukup untuk menegakkan tulang punggungnya.

Selama satu tahun itu beliau hidup sebagai buronan yang senantiasa waspada terhadap musuh siang dan malam. Senjatanya tidak pernah berpisah dengannya. Dia selalu siap siaga dan hati-hati.

Beliau pernah mengatakan kepada Asy Syahid Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah-: “Akhi, kita ini bukan orang yang lebih mulia daripada para sahabat Rosul SAW, di mana mereka hidup di Madinah dalam keadaan takut dan was-was perkataan seorang sahabat:

وما بنا يا رسول الله إلا الخوف وسيف أحدنا على عاتقه..

Wahai Rosululloh, tidak ada yang ada pada diri kami selain perasaan takut, sementara masing-masing kita senantiasa memanggul pedang di atas pundaknya.”

Beliau menghibur diri dengan kondisi para sahabat ridlwanullohu ‘alaihim.

Syaikh Yusuf jarang sekali melihat keluarganya — bapak-ibunya —. Sampai pada masa-masa terakhir ketika perburuan semakin ketat hubungan mereka terputus sama sekali. Bahkan hubungan beliau dengan ketiga puterinya juga terputus. Puterinya yang paling besar namanya adalah Maryam. Pada hari-hari terakhir beliau menulis sebuah syair yang sangat berkesan untuk mereka, yang dicantumkan dalam surat beliau sebelum beliau mati syahid biiznillah dalam sebuah perlawanan yang maksimal. Beliau lebih memilih mati di jalan Alloh daripada ditawan oleh Thoghut Saudi, semoga Alloh menyegerakan siksaannya terhadap para thoghut itu. Dalam hal ini beliau meneladani seorang sahabat mulia ketika tertangkap musuh: “Adapun aku, pada hari ini aku tidak akan mau tunduk dalam penguasaan orang kafir. ” Dengan begitu seolah-olah beliau mengatakan:
ولست أبالي حين أقتل مسلما
على أي جنب كان في الله مصرعي
وذلك في ذات الإله وإن يشأ
يبارك على أوصال شلو ممزع

Aku tidak peduli ketika aku terbunuh sebagai orang muslim …

Pada sisi mana aku tersungkur di jalan Alloh …

Itu semua hanya untuk Dzat Alloh, dan jika Ia kehendaki …

niscaya memberkati persendian-persendian tubuh yang terpotong-potong …

Kemudian Asy Syahid biiznillah Syaikh Isa bin Sa’ad al ‘Usyin -rahimahullah- menutup ceritanya tentang Syaikh Yusuf :”Abu Muhammad (Syaikh Yusuf) telah pergi meninggalkan kita, sementara beliau adalah orang yang tersembunyi dan tidak dikenal oleh banyak manusia. Namun semua itu tidak ia hiraukan selama Alloh mengenalnya. Dan semua jasa-jasanya yang besar untuk membela Islam dan membantu mujahidin kelak akan menjadi saksi bahwa beliau adalah termasuk orang pilihan dari umat Islam hari ini.

Dengan demikian berakhirlah kehidupan seorang pemuda dan seorang Syaikh dari kalangan pemuda Islam, yang terkumpul padanya berbagai keutamaan, seperti ilmu, dakwah, jihad, dan ibadah yang terbaik insya Alloh. Beliau telah meraih apa yang dirindukan oleh setiap pemuda yang mengenal jalan petunjuk, maka selamat berbahagia wahai Abu Muhammad ..

Sungguh kami menangisimu melebihi tangisan kami kepada banyak orang-orang yang kami cintai ..

Kami menangisimu dan kami berharap apa yang di sisi Alloh lebih baik untukmu ..

Namun dahulu kami mengharapkan dirimu hidup menyertai umat Islam yang malang ini, yang tidak mendapatkan orang yang membelanya dan menegakkan syariat Alloh pada mereka kecuali sedikit orang …

Sungguh kami takkan melupakanmu wahai Abu Muhammad ..

Demi Alloh, orang yang pernah hidup bersamamu pasti akan sulit untuk mengabaikan pengaruhmu pada kehidupannya.

Kami melihat dirimu telah berbuat sesuatu untuk membela jihad, yang tidak dapat dilakukan oleh berbagai organisasi dan orang-orang yang bekerja secara konsentrasi.

Sungguh engkau adalah teladan yang langka, semua waktumu engkau berikan untuk jihad dan mujahidin.

Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad..

Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad..

Semoga Alloh merahmatimu wahai Abu Muhammad..”

(IJ/disadur dari arahmah.com)